Jaga Kualitas Rasa, BUMDes Srikandi Terapkan Metode Tradisional Media Batu Bata dan Garam dalam Pembuatan Telur Asin

  • Jan 21, 2026
  • KIM PERMATA ABADI DESA TEMPEH TENGAH
  • Ekonomi dan Sosial, Ketahanan Pangan

Tempeh Tengah, KIM — Sebagai kelanjutan dari upaya mendukung program ketahanan pangan desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Srikandi Tempeh Tengah terus mengembangkan unit usaha berbasis potensi lokal. Setelah berhasil mengelola peternakan bebek petelur, BUMDes kini melangkah ke tahap hilirisasi dengan mengolah hasil telur bebek menjadi produk telur asin bernilai tambah,  Rabu (21/01/2026).

Dalam proses produksinya, BUMDes Srikandi memilih menerapkan metode tradisional menggunakan media batu bata, garam, air, dan abu gosok. Metode ini dinilai mampu menjaga kualitas rasa telur asin tetap gurih, alami, serta bebas dari bahan kimia tambahan, sehingga aman dan disukai masyarakat.

Salah satu anggota BUMDes Srikandi, Melinda, menjelaskan bahwa penggunaan media tradisional bukan tanpa alasan. Selain mudah diterapkan, bahan-bahannya juga mudah diperoleh di lingkungan sekitar desa.

“Kami ingin memanfaatkan cara-cara sederhana yang sudah lama dikenal masyarakat. Media batu bata, garam, dan abu gosok terbukti mampu menghasilkan telur asin yang rasanya stabil dan teksturnya bagus,” ujarnya.

Adapun tahapan pembuatan telur asin yang dilakukan BUMDes Srikandi diawali dengan membersihkan telur bebek hingga benar-benar bebas dari kotoran. Setelah itu, batu bata merah ditumbuk halus lalu dicampur dengan garam, abu gosok, dan air hingga membentuk adonan pasta. Telur kemudian dilumuri adonan secara merata, disimpan dalam wadah tertutup, dan didiamkan selama kurang lebih 10–14 hari agar proses pengasinan berjalan sempurna. Setelah masa pemeraman selesai, telur dibersihkan dan direbus hingga matang sebelum siap dipasarkan.

Ketua BUMDes Srikandi, Joyo Mulyo, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa sekaligus memastikan keberlanjutan program pangan.

“Kami tidak hanya fokus pada produksi telur dari peternakan bebek, tetapi juga bagaimana hasilnya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Telur asin ini menjadi salah satu bentuk optimalisasi potensi desa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Joyo Mulyo berharap pengolahan telur asin dengan metode tradisional ini dapat menjadi contoh usaha desa berbasis kearifan lokal, sekaligus membuka peluang kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Dengan pengelolaan yang konsisten dan kualitas yang terjaga, kami optimistis produk telur asin BUMDes Srikandi bisa terus berkembang dan diterima pasar,” tambahnya.

Melalui pengolahan telur asin ini, BUMDes Srikandi menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi desa, dan penguatan usaha berbasis potensi lokal secara berkelanjutan. (KIM Permata Abadi - Melinda)